Percepatan diri bukan dimaknai secara lahir yang berarti kita melakukan sesuatu lebih cepat, seperti lari paling cepat, jalan paling cepat, makan paling cepat, mandi paling cepat dan bahkan tidur paling cepat :) . Tapi hendaknya dimaknai secara batin dengan spirit kita berbuat seperti seorang pelari maraton yang harus berlari dalam jarak jauh. Ia akan seefisien mungkin mengelola setiap sumber daya yang dimilikinya dan menjauhkan diri dari kemubaziran. Orang yang efisien adalah orang yang memiliki pandangan jauh ke depan. Percepatan diri bisa diartikan bahwa kita dalam hidup ini harus mengejar berbagai ketertinggalan yang ada dalam diri kita, terutama ilmu. Hanya ilmu lah yang bisa membuat orang bahagia di dalam kehidupan ini, bahkan sampai akhir hayat kelak. Singkatnya harus punya visi dan misi yang jelas.
“Barang siapa ingin hidup bahagia di dunia maka cari lah ilmu, barang siapa ingin hidup bahagia di akhirat maka carilah ilmu, barang siapa ingin hidup bahagia di dunia dan akhirat maka carilah ilmu”.
Ada 3 langkah yang bisa dilakukan menuju percepatan menurut versi penulis :
- Membaca. Membaca aneka buku biasanya akan mendapat pencerahan baru. Membaca juga sarana percepatan untuk menghadapi hidup, namun tidak semua ilmu yang kita inginkan harus kita jalani sendiri karena akan habis waktu. Hidup itu terbatas, kita mendiami satu tubuh, satu pikiran, dan melihat dunia dengan sepasang mata. Melalui membaca dunia kita menjadi lebih terbuka. Kita menjadi lebih terbuka tidak terbatas karena dapat menggunakan “mata” (pikiran) orang lain yang tersebar di mana-mana. Kemahiran membaca seharusnya tidak dipandang remeh karena hal tersebut akan meningkatkan pemahaman dengan lebih berkesan. Oleh karena itu teknik membaca yang banar sangat penting dalam proses pembelajaran. Mari budayakan membaca, sehingga kita bisa memandang kehidupan ini semakin luas. Banyak orang punya pengelihatan tapi belum tentu punya pandangan. Melalui budaya membaca, pandangan kita akan semakin luas dan tidak bertumpu pada satu titik sudut pandang.
- Silaturahmi. Bersilaturahmilah, sebab disinilah letak pertukaran ilmu dan berbagi pengetahuan terjadi. "If you have an apple and I have an apple and we exchange apples then you and I will still each have one apple. But if you have an idea and I have an idea and we exchange these ideas, then each of us will have two ideas." (George Bernard Shaw (1856-1950) Irish Author & Playwright )
- Tafakur. melalui perenungan dengan melihat kejadian alam. Kisah “Ibnu Hajar dan Batu” berikut ini mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita. Ibnu Hajar Al-’Asqalani, karena dianggap nalarnya tidak bisa mengikuti pelajaran, maka oleh Dewan Guru dikeluarkan dari sekolah. Ditengah kesedihan, ketika ‘Asqalani sedang berjalan, ia melihat air yang menetes ke atas sebuah batu. Tetesan air yang sekali-sekali itu ternyata bisa membuat permukaan batu itu menjadi cekung dibuatnya. Ibnu Hajar berkata kepada dirinya sendiri “Batu saja bisa berlubang karena ditetesi air setiap hari. Berarti otak/kepala saya bisa juga kalo dimasuki ilmu setiap hari“. Dia pun segera menemui gurunya dan menjelaskan peristiwa yang baru dilihatnya itu. Singkatnya si Guru berkenan untuk menerimanya sebagai murid. Dengan semangat itu, As Qalani belajar terus dengan sabar dan kemauan yang kuat. Sejarah mencatat berkat kemauan belajarnya yang membaja kelak ia berhasil menjadi seorang ulama besar yang amat disegani pada zamannya. Ibnu Hajar yang bermakna “batu” di depan namanya, merupakan kenang-kenangan yang diperolehnya dan sekrang banyak dikenal banyak orang sebagai Imam dan Ulama’ Ahlussunnah yang mensyarahkan Shohih Bukhori dengan Kitab Fatul Bari’nya. Nama Ibnu Hajar Al-Atsqolani adalah nama yang sudah tidak asing lagi, seorang ulama besar di abad sembilan, pakar hadits dan fikih.
Mari lakukan percepatan diri sekarang juga. Semoga dengan tulisan ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua…Salam Bisa!!!
(Ditulis sembari menyusun skripsi dan mencari inspirasi untuk desain web)
Follow me at twitter : @suparjo
HP : 0815 10491015

Komentar
Posting Komentar