Langsung ke konten utama

MAKNA KESABARAN

Beberapa jam yang lalu dunia dikagetkan dengan kejadian yang cukup menghentakkan kehidupan. Tsunami melanda di negeri Sakura. Saya sendiri melihat langsung kejadian tersebut melalui tayangan televisi. Jujur saja kagum dan terharu, dalam pikiran saya langsung merespon sikap warga jepang yang tetap tenang dan tidak panik.

Bagi saya pribadi itu sangat mengagumkan. Kalau tidak salah (berarti benar ya :) hehehe...) Di negara 'matahari terbit' tersebut semenjak usia dini masyarakatnya sudah dikenalkan manajemen bencana. Sehingga ketika menghadapi kejadian berupa bencana alam baik berupa gempa maupun bencana yang lainnya, mereka sudah mengerti apa yang musti diperbuat.

Meminjam istilah orang bijak bestari "kita akan menang jika dalam keadaan tenang". Bagi warga jepang bencana alam bukan suatu masalah, walau pun secara geografis rentan akan hal itu. Bahkan masyarakat sangat damai dengan badai dan malahan bersahabat dengan badai.

Kita bisa melihat ekspresi mereka saat mengalami bencana. Begitu cool, calm and confident. Sangat menakjubkan, sempat terlintas dibenakku ketika tsunami melanda negeri kita di akhir 2004. Dan banyak sekali perbedaannya mengenai respon terhadap kejadian tersebut antara masyarakat kita dan Jepang.

Kalau tidak boleh dipungkiri bahwa kesabaran sangat berkaitan dengan cara berpikir. Dan cara berpikir ditentukan oleh seberapa banyak input yang diterima. Sehingga jika inputnya bagus maka out putnya juga bagus. Dan ini sangat berpengaruh dalam bertindak. Kepanikan, ketidaktenangan sendiri disebabkan karena ketidaktahuan. Mengambil hikmah dari momen tersebut ada baiknya pemerintah dan masyarakat Indonesia bisa belajar dari negeri sakura. Baik dari sisi infrastruktur maupun kontennya.

Teknologi sebagus apapun tak akan ada manfaatnya jika pelakunya tidak selalu mensosialisasikan pengetahuannya kepada masyarakat, dan secara paralel masyarakatpun mau mempunyai kesadaran berpartisapasi untuk mengaplikasikannya.

"Knowledge is power", begitu kata pepatah, dan jepang sudah membuktikannya. Karena pengetahuanlah maka masyarakat jepang yang melek teknologi sangat menakjubkan ketika merespon kejadian tsunami. Dan itulah makna kesabaran yang sebenarnya. Bukan tsunaminya yang jadi masalah, melainkan bagaimana menyikapinya. Salam Bisa...!!!

(Ditulis sembari bercengkerama dengan keluarga sebagai ungkapan rasa turut simpati dan duka cita atas kejadian Tsunami di Negeri Sakura - Jepang)

Follow me at twitter : @suparjo
Sent from my BlackBerry®powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al-Wasi'

Alwasi' adalah satu dari nama dan sifat Allah Yang Mahasempurna. Maksudnya adalah yang luas sifat-Nya dan yang berkaitan dengannya. Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada pujian terhadap-Nya. Sesungguhnya Dia seperti yang Dia puji diri-Nya. Dia-lah yang Mahaluas keagungan, kekuasaan, kerajaan, keutamaan, kebaikan, dan Yang Mahaagung kedermawanan dan kemuliaan-Nya. "Dan milik Allah timur dan barat. Kemana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui." (QS. 02:115)

Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah adalah mengesahkan Allah dengan meyakini bahwa Dia adalah Rabb Yang Ma ha Menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi ini. Di antara nama dan sifat-Nya yang indah adalah Al-'Alim, artinya Allah Maha Mengetahui. Maknanya, ilmu-Nya meliputi yang zahir dan yang bathin; yang tampak maupun yang tersembunyi; yang di atas dan yang di bawah; yang telah berlalu, yang sekarang, dan yang akan datang. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sesuatu apa pun. Dia mengetahui apa yang terjadi, apa yang akan terjadi, apa yang tidak terjadi, seandainya terjadi, dan bagaimana jika terjadi. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu dan Dia menghitung segala-galanya. "Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk mu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. 2 : 29)

Doing business is not to have something, but to do something

Berbisnis bukan demi memperoleh sesuatu, misalnya kekayaan atau kekuasaan, tetapi untuk melakukan sesuatu. Saya pribadi sangat menyukai aspek-aspek filosofis dibalik segala aktivitas, terutama bisnis. Jika berbisnis agar mendapatkan uang miliran rupiah, suatu saat pasti akan kecewa. Mungkin bisa saja kita mendapatkan apa yang kita inginkan, yaitu uang miliaran rupiah. Tapi cepat atau lambat, dalam hati nurani akan mengatakan, “apa arti semua ini?”. Kalau bisnis hanya karena ingin menjadi kaya, maka akan berhenti setelah merasa kaya. Kita akan terbangun suatu pagi dan merasa bahwa semua yang kita rencanakan tidak ada artinya, sebab kita sudah kaya. Secara otomatis proses kreatif dalam berbisnis, habis sudah. Mengabdi kepada keluarga dan sanak famili adalah keharusan yang sudah umum, dan bukan merupakan suatu keistimewaan. Namun mengabdi kepada masyarakat justru jauh lebih menantang. Di era sekarang ini tidak dipungkiri bahwa uang sudah dianggap ...