Langsung ke konten utama

AWALI DARI DIRI

Ketika saya masih muda, dan bebas berimajinasi, saya bermimpi mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kebijaksanaan, saya mendapati dunia yang tidak berubah, saya pun menyederhanakan keinginan saya dan memutuskan hanya ingin mengubah negeri saya.
Akan tetapi, tampaknya tak ada yang berubah dengan negeri saya. Usia pun kian senja, usaha terakhir saya adalah berusaha mengubah keluarga, orang-orang terdekat. Akan tetapi, lagi-lagi, mereka tetap sama, tak ada yang berubah.
Dan, sekarang, saat saya terbaring sekarat di ranjang kematian, tiba-tiba saya menyadari : bahwa yang seharusnya pertama kali saya lakukan adalah mengubah diri sendiri. Kemudian dengan memberikan ketauladanan, saya mengubah keluarga saya. Dorongan dan inspirasi mereka memungkinkan saya memperbaiki negeri dan siapa tahu, saya mungkin bisa mengubah dunia.
                                                                                                                ___ Anonim

                Tentunya dalam hidup ini kita pernah mengalami pesrselisihan atau bahkan berdebat dengan seseorang dan pada akhirnya kita bertanya kepada diri sendiri, “Kenapa dia tidak memahaminya seperti saya?” atau “Dia tidak ingin berubah?” Sebagaimana terjadi pada setiap orang, pertanyaan-pertanyaan tersebut dan sejenisnya pasti pernah tiba-tiba muncul dalam benak kita.
                Sebagian besar dari kita menghadapi tantangan-tantangan dalam hidup karena kita ingin mengubah orang lain. Kita ingin mereka menjadi seperti kita, menyetujui pendapat kita, mewujudkan harapan-harapan kita, memenuhi gambaran sempurna yang kita buat tentang diri mereka. Dan, ketika itu tidak terwujud, kita dilanda berbagai macam perasaan negatif.
                Padahal, perhatikan sekeliling kita, tantangan yang sesungguhnya dalam kehidupan adalah mengubah diri kita sendiri. Menjadi orang yang kita inginkan, memanfaatkan semua potensi yang kita miliki dan hidup lebih berbahagia. Thomas A. Kempis mengatakan, “Jangan kecewa jika kita tidak dapat mengubah orang lain seperti yang kita inginkan, selama kita tidak mampu mengubah diri kita sendiri.” Dengan kata lain, kebanyakan orang cenderung ingin mengubah orang lain daripada berusaha mengubah diri mereka sendiri. Berharap orang lain berubah memang jalan keluar yang mudah. Akan tetapi, sayangnya seringkali hal ini mengakibatkan timbulnya masalah-masalah yang lebih sulit diatasi, seperti perceraian, menganggur berkepanjangan, ketidakbahagiaan, atau lebih buruk lagi.
                Ketika perhatian kita terfokus untuk menyalahkan orang lain, kita akan kehilangan energi, kekuatan, dan waktu kita. Lebih baik, fokuskan energi kita guna meningkatkan kehidupan kita sendiri. Mulailah menggali kekuatan-kekuatan positif tersembunyi yang ada didalam diri kita dan manfaatkanlah semua potensi kita untuk menjadi seseorang yang selalu Anda inginkan. Mulailah perjalanan menuju kehidupan yang lebih berarti. Di sini, kita akan memperoleh banyak sahabat, memahami, dan menghormati kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut orang lain dengan lebih baik. Pada akhirnya, dengan mengontrol penilaian dan persepsi kita, maka kita akan mampu menjadi komunikator yang handal, seorang pakar yang sesungguhnya. So conclusion Maximize Our Potential…Salam Bisa yang sangat Luar Biasa!!!…Sukses untuk kita….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Demokrasi dalam Bayangan Politik Uang dan Patronase

Diambil dari wikipedia Hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) di Jakarta kembali menjadi sorotan. Selain menentukan arah kepemimpinan ibu kota, pilkada ini juga mencerminkan fenomena yang lebih luas tentang dinamika demokrasi di Indonesia. Salah satu isu yang mencuat adalah maraknya penyalahgunaan kekuasaan, praktik politik uang, serta hubungan patronase dan klintelisme yang menjadi tantangan serius bagi kualitas demokrasi. Demokrasi dan Penyalahgunaan Kekuasaan Demokrasi seharusnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi secara bebas dan adil. Namun, kenyataannya, kekuasaan sering kali digunakan untuk tujuan yang menyimpang. Dalam konteks pilkada, penyalahgunaan kekuasaan mencakup tindakan-tindakan seperti manipulasi data pemilih, tekanan terhadap aparat atau lembaga negara, serta penggunaan fasilitas negara untuk mendukung kampanye tertentu. Praktik-praktik semacam ini tidak hanya merusak integritas pemilu, tetapi juga menggerus kepercayaan publik terhadap sistem de...

Berhentilah Memerintah

---------------------------------- Anne Ahira Newsletter Think & Succeed! Jumlah Pembaca:  500,000+  ---------------------------------- "Pemimpin sejati melayani. Melayani orang-orang. Melayani minat terbaik mereka. Dalam memimpin, mereka tidak selalu bertindak populer, dan tidak juga selalu mengesankan. Tetapi pemimpin sejati selalu dimotivasi oleh kepedulian kasih dibandingkan hasrat kejayaan pribadi dan mereka pun bersedia membayar harganya"  - Eugene B. Habecker Dear  Suparjo  pemimpin yang baik, Memimpin yang efektif bukanlah mengenai bagaimana memerintah anak buah. Semua orang pun bisa melakukan hal itu jika diberi kekuasaan. Memimpin yang efektif adalah sebuah seni melayani.  Pemimpin yang memiliki banyak pengikut adalah pemimpin yang melayani. Menurut pakar kepemimpinan John C. Maxwell, untuk menjadi orang besar kita harus mau menjadi yang paling kecil dan juga pelayan bagi orang lain. Layanilah orang lain den...

Inti Dakwah

Inti dakwah seluruh nabi dan rasul adalah perintah untuk menyembah hanya kepada Allah saja. Tauhid ini disebut dengan tauhid uluhiyah . Setiap nabi dan rasul selalu memulai dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah, sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Saleh, Syu'aib, dan lain-lain. Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah. Beliau adalah bapaknya tauhid, karena keyakinan beliau adanya Allah melahirkan ketundukan dan ketaatan yang sempurna. Allah mengujinya dengan beberapa perintah dan larangan, dan beliau mampu melaksanakan seluruhnya dengan sebaik-baiknya, inilah hakikat dari tauhid. ".....Janganlah kamu menyembah selain Allah....." (QS. 02 : 83)